Ada beberapa orang yang
berpendapat, mudik lebih banyak berbau mubadzir, kesan akan pamer kekayaan di
kampung halaman, ada juga yang berpendapat bahwa mudik adalah tradisi yang
kliru dalam merayakan idul fitri. Tentu saja setiap orang berhak mengemukakan
pendapatnya, tapi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, mudik adalah sebuah
sarana ibadah dalam bentuk Silaturahmi
Rabu, 15 Agustus 2012
Minggu, 12 Agustus 2012
Bagaimana Ber Istikharah??
Shalat Istikharah
Apabila seorang muslim
dihadapkan dengan suatu pilihan atau bertekad untuk melakukan suatu urusan maka
hendaklah memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya pilihan yang tepat
dan baik untuk agama, dunia dan akhiratnya. Karena Allah lah yang menciptakan
kita dan segala yang ada di langit dan di bumi, maka sudah pasti Dia mengetahui
mana yang baik dan mana yang buruk. Mengetahui hal ghaib dan apa-apa yang telah
terjadi dan akan terjadi pada diri kita.
Label:
ilmu,
iman,
islam,
istikharah,
istikhoroh,
kitab,
kitab kuning,
muslim,
qur an,
sholat
Jumat, 10 Agustus 2012
Puasa Sebagai Sarana Menuju Allah
“Bagi orang yang berpuasa ada dua
kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu
dengan Tuhannya”. (HR Bukhari)
‘Suatu hari Nabi saw. mendengar seorang wanita tengah mencaci-maki
hamba sahayanya, padahal ia sedang berpuasa. Nabi saw. Segera memanggilnya.
Lalu beliau menyuguhkan makanan seraya berkata, “Makanlah hidangan ini!” Keruan
saja, wanita itu menjawab, “Ya Rasulullah, aku sedang berpuasa.” Nabi saw.
Berkata dengan nada heran, “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sambil
mencaci-maki hamba sahayamu? Sesungguhnya Allah menjadikan puasa sebagai
penghalang (hijab) bagi seseorang dari segala
kekejian ucapan maupun perbuatan. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan
betapa banyaknya orang yang lapar”. ( HR Bukhari)
Rabu, 08 Agustus 2012
Islam dan Hidup Sederhana
Sederhana
adalah kata sifat yang bermakna “bersahaja” atau “tidak berlebih-lebihan”.
Orang yang hidup sederhana adalah orang yang hidup dengan bersahaja dan tidak
berlebih-lebihan. Ketika kekurangan, orang yang sederhana tidak akan
menghalalkan segala cara, termasuk menyusahkan dirinya, untuk memperoleh harta
agar dihormati oleh orang lain. Begitu pula, ketika mempunyai harta lebih,
orang sederhana tidak akan tergoda untuk bermewah-mewahan, menumpuk hartanya di
rumah sendiri, tidak pula memanjakan diri dengan segala fasilitas serba lux.
Selasa, 07 Agustus 2012
Ayat Yang Turun Pertama dan Terakhir
Ungkapan
bahwa Rasulullah SAW menerima Qur`an yang diturunkan kepadanya itu mengesankan
suatu kekuatan yang dipegang seseorang dalam menggambarkan segala yang turun
dari tempat yang lebih tinggi. Hal itu karena tingginya kedudukan Qur`an dan
agungnya ajaran-ajarannya yang dapat mengubah perjalanan hidup manusia,
menghbungka langit dan bumi, dan dunia dengan akhirat. Pengetahuan mengenai
sejarah perundang-undangan Islam dari sumber pertama- dan pokok-yaitu Qu`an-
akan memverikan kepada kita gambaran mengenai pentahapan hukum dan
penyesuaiannya denga keadaan tempat hukum itu diturunkan, tanpa adanya
kontradiksi antara yang lalu dengan yang akan datang. Hal demikian memerlukan
pembahasan mengenai apa yang pertama kali turun dan yang dan apa yang terakhir
kali. Demikian pula pembicaraan mengenai apa yang pertama kali dan terakhir kali
turun itu memerlukan pembahasan mengenai segala peundang-undangan ajaran-ajaran
Islam, seperti makanan, minuman, peperangan, dan lain sebagainya.
Dalam
hal apa yang pertama kali diturunkan dan apa yang terakhir kali, para ulama
mempunyai banyak pendapat, yang akan kami ringkaskan dan pertimbangkan didalam
pembahasan berikut ini.
Nabi SAW Memperbolehkan Berbuat Bid’ah Hasanah
Nabi saw memperbolehkan
kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah,
sebagaimana sabda beliau saw :
مَنْ سَنَّ فِي
اْلاِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا
بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي
الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ
بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
Tingkatan Puasa
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa,”
(QS al-baqarah [2]: 183).
Puasa, secara etimologi
(pengertian kebahasaan) berasal dari kata “shâma-yashûmu-shauman/shiyâman”
yang artinya adalah “menahan, mengekang atau mengendalikan”. Kata menahan atau
mengekang disini berarti “al-imsâk ‘anil mufthirât” yakni menahan diri
dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan, minum, melakukan
hubungan suami isteri di siang hari dan lain sebagainya.
Langganan:
Postingan (Atom)