Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2012

Puasa Sebagai Sarana Menuju Allah

 “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya”. (HR Bukhari)
‘Suatu hari Nabi saw. mendengar seorang wanita tengah mencaci-maki hamba sahayanya, padahal ia sedang berpuasa. Nabi saw. Segera memanggilnya. Lalu beliau menyuguhkan makanan seraya berkata, “Makanlah hidangan ini!” Keruan saja, wanita itu menjawab, “Ya Rasulullah, aku sedang berpuasa.” Nabi saw. Berkata dengan nada heran, “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sambil mencaci-maki hamba sahayamu? Sesungguhnya Allah menjadikan puasa sebagai penghalang (hijab) bagi seseorang dari segala kekejian ucapan maupun perbuatan. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang lapar”. ( HR Bukhari)

Selasa, 07 Agustus 2012

Ayat Yang Turun Pertama dan Terakhir


Ungkapan bahwa Rasulullah SAW menerima Qur`an yang diturunkan kepadanya itu mengesankan suatu kekuatan yang dipegang seseorang dalam menggambarkan segala yang turun dari tempat yang lebih tinggi. Hal itu karena tingginya kedudukan Qur`an dan agungnya ajaran-ajarannya yang dapat mengubah perjalanan hidup manusia, menghbungka langit dan bumi, dan dunia dengan akhirat. Pengetahuan mengenai sejarah perundang-undangan Islam dari sumber pertama- dan pokok-yaitu Qu`an- akan memverikan kepada kita gambaran mengenai pentahapan hukum dan penyesuaiannya denga keadaan tempat hukum itu diturunkan, tanpa adanya kontradiksi antara yang lalu dengan yang akan datang. Hal demikian memerlukan pembahasan mengenai apa yang pertama kali turun dan yang dan apa yang terakhir kali. Demikian pula pembicaraan mengenai apa yang pertama kali dan terakhir kali turun itu memerlukan pembahasan mengenai segala peundang-undangan ajaran-ajaran Islam, seperti makanan, minuman, peperangan, dan lain sebagainya.
Dalam hal apa yang pertama kali diturunkan dan apa yang terakhir kali, para ulama mempunyai banyak pendapat, yang akan kami ringkaskan dan pertimbangkan didalam pembahasan berikut ini.

Tingkatan Puasa

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS al-baqarah [2]: 183).
Puasa, secara etimologi (pengertian kebahasaan) berasal dari kata “shâma-yashûmu-shauman/shiyâman” yang artinya adalah “menahan, mengekang atau mengendalikan”. Kata menahan atau mengekang disini berarti “al-imsâk ‘anil mufthirât” yakni menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan, minum, melakukan hubungan suami isteri di siang hari dan lain sebagainya.